Muhammad Padhil,Amanda,Zahra Amelia,Feri Dessta Purnama,dan Abdul Majid, Prodi Agribisnis, Universitas Bangka Belitung.
Penulis: Muhammad Padhil,Dkk Prodi Agribisnis, Universitas Bangka Belitung
Bangka – Sungailiat,April 2026-Bagaimana cara mendistribusikan 750 roti segar ke tiga lokasi berbeda dengan kapasitas kendaraan hanya 300 roti per rit,tanpa membuat produk basi di jalan? Itulah tantangan nyata yang dihadapi usaha rumahan Roti Saji di Bangka Belitung. Hasil kajian tim mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Bangka Belitung menunjukkan bahwa efisiensi distribusi produk pangan segar tidak selalu berarti menggabungkan rute-justru keputusan untuk tidak menggabungkan bisa menjadi solusi paling rasional.
Roti Saji, yang berdiri sejak 2014, memproduksi roti tanpa pengawet dengan berbagai varian rasa (cokelat, stroberi, matcha, vanilla, kacang) dan topping. Dengan harga jual Rp2.000 per roti atau Rp10.000 per kotak isi 5,produk ini menyasar pelajar, mahasiswa, dan pekerja kantoran yang membutuhkan camilan praktis dan sehat.
Namun, karakteristik produk yang mudah rusak (perishable) dan masa simpan singkat menuntut sistem distribusi yang cepat dan terencana. Data menunjukkan rata-rata permintaan mencapai 250 potong per hari, dengan kapasitas produksi maksimal 300 potong per hari. Adapun lokasi distribusi mencakup Sungailiat (jarak 10 km dari produksi), Beliny (50 km), dan Desa Dalil (30 km)-masing-masing dengan permintaan 300,250,dan 200 potong per periode.
Jadwal Distribusi Tiap Hari: Jumat di Sungailiat, Sabtu di Dalil, Minggu di BelinyuUntuk memastikan produk tiba dalam kondisi segar dan tepat sasaran, Roti Saji menerapkan jadwal distribusi tetap berbasis hari. Strategi ini memudahkan konsumen di setiap wilayah mengetahui kapan mereka bisa membeli roti langsung, sekaligus membantu produsen mengatur kapasitas produksi dan kendaraan secara lebih terprediksi.
- Hari Jumat-Distribusi ke Sungailiat (jarak 10 km, permintaan 300 pcs). Lokasi terdekat dari rumah produksi ini menjadi prioritas di awal akhir pekan.
- Hari Sabtu-Distribusi ke Desa Dalil (jarak 30 km, permintaan 200 pcs). Hari kedua difokuskan ke wilayah dengan jarak menengah.
- Hari Minggu-Distribusi ke Belinyu (jarak 50 km, permintaan 250 pcs). Lokasi terjauh dilayani di hari libur utama, ketika konsumen cenderung lebih santai dan berbelanja camilan.
Dengan jadwal terpisah ini, setiap rute hanya membawa beban sesuai kapasitas kendaraan (maksimal 300 pcs per rit), sehingga tidak ada risiko kelebihan muatan atau produk teronggok terlalu lama di perjalanan. Sistem ini juga memungkinkan produksi dilakukan sehari sebelumnya atau pagi hari sesuai pesanan masing-masing wilayah.
Saving Matrix: ketika penghematan 50 Km harus dikorbankan tim mahasiswa yang terdiri atas Abdul Majid, Muhammad Padhil, Feri Dessta Purnama, Amanda Rahmadanti, dan Zahra Amelia menerapkan metode Saving Matrix-sebuah teknik optimasi rute yang menghitung efisiensi dengan menggabungkan dua lokasi pengiriman dalam satu perjalanan.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa penggabungan rute Belinyu-Desa Dalil memberikan nilai penghematan terbesar, yaitu 50 km. Secara matematis,rute gabungan ini sangat efisien. Namun, ada masalah: totaI permintaan Belinyu (250 pcs) dan Desa Dalil (200 pcs) adalah 450 pcs, sementara kapasitas kendaraan hanya 300 pcs per rit.
“Kami terpaksa tidak menggabungkan kedua lokasi tersebut. Kapasitas kendaraan menjadi batasan absolut yang tidak bisa ditawar,” tulis tim dalam laporannya.
Tiga Rute Terpisah dengan Jadwal Khusus
Akhirnya, distribusi Roti Saji dilakukan dengan tiga rute terpisah yang dijalankan pada hari berbeda:
·Rute Jumat:Produksi→Sungailiat→Produksi (20 km, 300 pcs)
·Rute Sabtu: Produksi → Desa Dalil → Produksi (60 km, 200 pcs)
·Rute Minggu: Produksi → Belinyu → Produksi (100 km, 250 pcs)
Total jarak tempuh distribusi per minggu mencapai 180 km dengan kebutuhan satu kendaraan saja (karena dioperasikan pada hari berbeda).Ini lebih efisien dari segi kepemilikan armada dibandingkan harus punya tiga kendaraan sekaligus.
Kombinasi Milk Run dan Direct Delivery
Selain optimalisasi rute berdasarkan hari, Roti Saji menerapkan sistem distribusi kombinasi. Pada pagi hari di masing-masing jadwal, dilakukan milk run ke satu lokasi utama (misalnya Jumat ke Sungailiat). Sementara pada siang hari,direct delivery digunakan untuk menjawab pesanan online langsung ke konsumen di sekitar lokasi produksi.
Moda transportasi yang dipilih adalah darat (motor atau mobil box) karena fleksibel, biaya rendah, dan mampu menjangkau toko serta konsumen langsung.Moda laut dan udara dinilai tidak sesuai: laut terlalu lambat untuk produk mudah rusak,sementara udara terlalu mahal untuk skala UMKM.
Keuangan Sehat: Margin 28% dan BEP 133 Pcs
Dari sisi kelayakan usaha, Roti Saji mencatatkan kinerja keuangan yang positif. Total biaya variabel untuk 250 pcs mencapai Rp199.400 (Rp797,6 per pcs), sementara biaya tetap per hari Rp160.000 (Rp640 per pcs). Dengan total biaya per pcs Rp1.437,4 dan harga jual Rp2.000, laba per pcs mencapai Rp562,4atau margin 28 persen.
Pendapatan harian diperkirakan Rp500.000 dengan laba harian Rp140.600.BEP (Break Even Point) tercatat pada 133 pcs-artinya, hanya dengan menjual 133 potong roti saja, usaha ini sudah tidak merugi.
Perencanaan permintaan menggunakan pendekatan chase strategy (produksi mengikuti permintaan) dengan rata-rata 250 pcs/hari dan standar deviasi 25 pcs.Produksi optimal dihitung sebesar 265 pcs per hari, dengan safety stock 41pcs dan reorder point 306 pcs untuk menjaga kelancaran produksi.
Rekomendasi: Catat Biaya, Manfaatkan Teknologi, dan Siap Ekspansi
Tim peneliti memberikan sejumlah rekomendasi bagi pengelola Roti Saji:
1.Evaluasi distribusi berkala untuk menyesuaikan dengan perubahan permintaan di setiap lokasi, terutama jika pola pembelian di Sungailiat,Dalil,atau Belinyu berubah.
2. Catat biaya transportasi secara rinci per hari dan per rute agar efisiensi dapat diukur lebih akurat.
3. Gunakan teknologi sederhana seperti Google Maps atau aplikasi penentu rute tercepat untuk menghindari kemacetan, terutama di hari Minggu menuju Belinyu yang jaraknya paling jauh.
4. Tingkatkan koordinasi antara bagian produksi dan distribusi agar jumlah produk yang dikirim sesuai dengan jadwal harian-misalnya produksi lebih banyak pada Kamis malam untuk persiapan Jumat.
5.Siapkan penamnbahan kendaraan atau tenaga kerja jika permintaan di salah satu hari melebihi 300 pcs, atau jika ingin membuka hari distribusi tambahan.
Pelajaran untuk UMKM Pangan
Kisah Roti Saji menunjukkan bahwa dalam manajemen rantai pasok produk segar, efisiensi tidak selalu berarti memaksakan penggabungan rute.Kapasitas kendaraan, karakteristik produk, dan waktu tempuh adalah variabel yang harus dihormati. Dengan menerapkan jadwal distribusi tetap per hari-Jumat Sungailiat, Sabtu Desa Dalil, Minggu Belinyu-usaha ini berhasil mengatur beban logistik tanpa perlu armada besar.
“Dengan perencanaan tersebut, sistem distribusi Roti Saji menjadi lebih efektif, terjadwal, serta mampu menjaga kualitas produk hingga sampai ke konsumen,” demikian kesimpulan laporan tim.
Bagi pelaku UMKM makanan di daerah kepulauan seperti Bangka Belitung,pendeatan sederhana namun berbasis data seperti saving matrix dan penjadwalan berbasis hari dapat menjadi alat praktis untuk menghemat biaya logistik tanpa mengorbankan kesegaran produk. Karena pada akhirnya,konsumen tidak hanya membeli rasa-mereka juga membeli kepastian: kapan dan di mana roti segar itu bisa mereka dapatkan.
