Muhammad Padhil,Amanda,Zahra Amelia,Feri Dessta Purnama,dan Abdul Majid, Prodi Agribisnis, Universitas Bangka Belitung.
Penulis: Muhammad Padhil,Dkk Prodi Agribisnis, Universitas Bangka Belitung
Bangka – Keberlanjutan usaha merupakan tantangan terbesar sektor UMKM di Indonesia karena banyak usaha mikro gagal di lima tahun pertama akibat buruknya manajemen modal kerja. Di tengah risiko tersebut, Roti Saji di Sungailiat mampu bertahan sejak tahun 2014 hingga 2026berkat loyalitas pasar lokal dan strategi adaptif.
Roti Saji merupakan sebuah unit usaha mikro yang bergerak di sektor industri pengolahan makanan, khususnya industri hilir berbasis tepung (bakery). Perusahaan ini didirikan secara mandiri oleh Bapak Ibnu Farid pada tahun 2014 dan berlokasi strategis di Jl. Depati Amir Srimenanti 4, Sungailiat, Kabupaten Bangka. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta merujuk pada kriteria terbaru dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 Tahun 2021, Roti Saji diklasifikasikan sebagai Usaha Mikro. Hal ini diindikasikan oleh jumlah tenaga kerja yang terbatas, yaitu hanya didukung oleh 2 orang karyawan, serta pengelolaan manajemen yang masih bersifat kekeluargaan.
Faktor krusial yang mendasari ketahanan Roti Saji adalah keberanian dalam melakukan penetrasi pembiayaan eksternal guna memperkuat struktur modalnya. Melalui pemanfaatan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Pegadaian sebesar Rp10.000.000,-, Roti Saji berhasil mengamankan likuiditas harian tanpa harus membebani keuangan domestik keluarga.Skema bunga KUR sebesar 6% per tahun yang disubsidi oleh pemerintah bertindak sebagai katalisator yang meringankan beban biaya modal (cost of capital) bagi pelaku usaha mikro (Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2021). Rekam jejak Roti Saji yang bersih dari risiko gagal bayar (default risk) membuktikan bahwa karakter debitur (credit character) memegang peranan vital dalam keberhasilan manajemen pembiayaan.
Meskipun Roti Saji unggul dari sisi kepatuhan pembiayaan dan ketahanan usaha,tata kelola manajemen internalnya masih berada pada fase konvensional. Sistem pengelolaan keuangan yang mengandalkan metode menabung harian tanpa adanya pembukuan formal berbasis Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM)menciptakan tantangan baru. Tanpa adanya laporan laba rugi dan laporan arus kas yang rigid,pemilik usaha akan kesulitan dalam mengukur pertumbuhan aset riil, menghitung efisiensi biaya produksi, serta memprediksi kebutuhan modal di masa depan secara akurat (Rahmawati,2022).
Dalam struktur permodalan, Roti Saji memanfaatkan fasilitas pembiayaan eksternal melalui program KUR dari PT Pegadaian sebagai modal kerja utama. Pelaku usaha memilih skema cicilan tenor 12 bulan dengan suku bunga subsidi efektif sebesar 6% per tahun demi mengurangi beban biaya modal. Sesuai standar operasional, pengajuan KUR Super Mikro ini menghasilkan plafon pinjaman awal sebesar Rp10.000.000,- setelah memenuhi syarat kelayakan usaha yang berjalan minimal enam bulan. Berdasarkan prinsip analisis kelayakan kredit, pemilik menyiapkan dokumen administratif seperti KTP, KK,bukti pembayaran listik,PBB, NPWP,serta SKU dari kelurahan. Seluruh proses dari pengajuan hingga pencairan memakan waktu satu bulan, di mana catatan historis menunjukkan Roti Saji memiliki rekam jejak kolektibilitas yang sangat baik tanpa riwayat penolakan.
Administrasi keuangan internal Roti Saji belum menerapkan SAK EMKM karena tidak menyusun laporan keuangan formal seperti neraca atau laporan laba rugi, sertatransaksinya sebagian besar tidak dibukukan secara tertulis. Guna mengatasi risiko likuiditas dan memastikan kelancaran angsuran, pemilik menerapkan strategi manajemen kas mandiri dengan menyisihkan sebagian pendapatan bersih setiap hari ke pos dana cadangan cicilan. Metode penyisihan harian ini dinilai efektif mereduksi perilaku konsumtif modal kerja pada industri pangan dengan perputaran kas cepat. Selama masa pembiayaan berjalan, tidak ditemukan kendala eksternal atau risiko gagal bayar yang signifikan. Penggunaan sistem bunga tetap bersubsidi juga melindungi nominal angsuran dari gejolak makroekonomi pasar, sehingga profil pembiayaan Roti Saji tetap berada pada kategori risiko rendah.
Roti Saji memilih sikap konservatif untuk keberlanjutan usahanya dengan belum merencanakan ekspansi pembiayaan skala besar ataupun ketergantungan pada hibah dalam jangka pendek. Berdasarkan pengalaman empiris selama lebih dari 12 tahun, pemilik merumuskan filosofi kewirausahaan yang menekankan lima pilar karakter utama sebagai landasan kesuksesan usaha agribisnis. Pilar tersebut meliputi karakter berani mengambil risiko untuk proaktif berinvestasi, tanggung jawab moral dalam pemenuhan kewajiban utang, ulet serta telaten dalam menghadapi fluktuasi pasar, hingga konsistensi bersedekah sebagai wujud integrasi nilai spiritual dan tanggung jawab sosial dalam bisnis.
