Maulana Kusmawansyah, Hendra Kurniadi, Mita Hartati, Yuni Anisa, Laila Nadini, Annisa Izhardillah Fakultas Pertanian Perikanan dan Kelautan Universitas Bangka Belitung
Penulis: Maulana Kusmawansyah,dkk Mahasiswa Agribisnis, Universitas Bangka Belitung
Bangka – Mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Bangka Belitung melakukan analisis terhadap sistem pembiayaan usaha karet rakyat “Lapak Marwan” di Desa Kemuja, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka. Kajian tersebut menunjukkan bahwa usaha yang berdiri sejak 2016 ini mampu menjalankan perdagangan karet dalam skala besar melalui sistem pembiayaan berbasis kepercayaan tanpa memanfaatkan kredit perbankan.
Kegiatan analisis tersebut dilakukan pada Mei 2026 melalui wawancara langsung dengan pemilik usaha dan pengamatan aktivitas operasional lapak.
Salah satu usaha yang berperan aktif dalam kegiatan tersebut adalah Lapak Marwan, sebuah usaha pengumpulan dan pemasaran karet yang berlokasi di Desa Kemuja, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka. Usaha ini menjadi tempat penampungan hasil karet dari berbagai wilayah sebelum dikirim ke perusahaan pengolahan karet berskala besar.
Melalui kegiatan analisis pembiayaan agribisnis, mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Bangka Belitung melakukan kajian terhadap sistem pembiayaan, pengelolaan keuangan, serta berbagai tantangan yang dihadapi usaha tersebut dalam menjalankan aktivitas usahanya.
Lapak Marwan merupakan usaha agribisnis yang bergerak di bidang pengumpulan dan pemasaran karet rakyat. Usaha ini didirikan oleh Bapak Marwan pada tahun 2016 setelah sebelumnya menekuni dunia perdagangan karet sejak tahun 2010.
Perjalanan usaha tersebut dimulai dari pengalaman panjang yang diperoleh langsung di lapangan. Sebelum memiliki usaha sendiri, Bapak Marwan pernah bekerja di sektor perkaretan, termasuk sebagai petugas keamanan di salah satu pabrik karet. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mengenai proses pemasaran, pengolahan, hingga jaringan perdagangan karet yang kemudian menjadi modal utama dalam membangun usahanya.
Saat ini Lapak Marwan menjadi salah satu lapak pengumpul karet yang cukup aktif di Kabupaten Bangka. Dalam operasional sehari-hari, usaha ini didukung oleh delapan orang karyawan yang bertugas membantu proses penimbangan, bongkar muat, penyimpanan, hingga pengiriman karet ke pabrik.
Modal Berbasis Kepercayaan
Berbeda dengan banyak usaha lain yang memanfaatkan fasilitas pinjaman perbankan, Lapak Marwan menjalankan usahanya dengan sistem pembiayaan yang lebih sederhana dan berbasis kepercayaan.
Bapak Marwan memilih untuk tidak menggunakan pembiayaan dari lembaga keuangan formal seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sebagai gantinya, modal usaha diperoleh dari modal pribadi dan bantuan dana dari rekan maupun donatur yang telah memiliki hubungan baik dan saling percaya.
“Saya lebih memilih menggunakan modal pribadi dan bantuan dari rekan yang sudah dipercaya dibandingkan meminjam ke bank,” ujar Marwan saat diwawancarai mahasiswa Agribisnis UBB.
Dalam sistem ini tidak terdapat persyaratan administrasi yang rumit, jaminan aset, maupun kontrak resmi. Kesepakatan pembiayaan dilakukan secara informal berdasarkan hubungan sosial yang telah terjalin dalam waktu yang cukup lama.
Menurut Bapak Marwan, sistem tersebut memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam menjalankan usaha karena tidak dibebani kewajiban pembayaran bunga ataupun cicilan tetap seperti pada pinjaman bank.
Perputaran Dana Capai 800 Juta
Sebagai usaha pengumpul karet, Lapak Marwan membutuhkan modal kerja yang cukup besar setiap harinya. Berdasarkan hasil wawancara, usaha ini mampu membeli hingga sekitar 10 ton karet per hari dengan nilai transaksi mencapai Rp170 juta.
Untuk mendukung aktivitas tersebut, total dana yang berputar dalam usaha dapat mencapai Rp700 juta hingga Rp800 juta yang berasal dari berbagai sumber pembiayaan berbasis kepercayaan.
Sistem usaha yang diterapkan mengutamakan perputaran barang secara cepat. Karet yang dibeli dari petani biasanya hanya disimpan selama dua hingga tiga hari sebelum dijual kembali ke pabrik. Strategi ini dilakukan untuk menjaga kualitas karet sekaligus memastikan modal usaha dapat terus berputar secara lancar.
Kecepatan perputaran modal menjadi kunci utama dalam menjaga kestabilan arus kas sehingga pembelian karet dari petani dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Menjadi Penopang Ekonomi Petani
Keberadaan Lapak Marwan memberikan manfaat yang cukup besar bagi petani karet di Desa Kemuja dan wilayah sekitarnya. Melalui lapak ini, petani tidak perlu menjual hasil panennya langsung ke pabrik yang umumnya memiliki jarak lebih jauh dan prosedur yang lebih kompleks.
Selain mempermudah pemasaran hasil panen, Lapak Marwan juga dikenal mampu melakukan pembayaran kepada petani dengan cepat. Ketersediaan modal yang cukup menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan petani sehingga hubungan kerja sama dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Tidak hanya berperan dalam pemasaran, usaha ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar melalui penyerapan tenaga kerja lokal yang terlibat dalam aktivitas operasional harian.
Tantangan Fluktuasi Harga Karet
Di balik keberhasilannya, Lapak Marwan juga menghadapi sejumlah tantangan yang cukup besar. Salah satu risiko utama adalah fluktuasi harga karet yang sering mengalami perubahan mengikuti kondisi pasar.
Ketika harga jual ke pabrik mengalami penurunan sementara harga beli dari petani masih tinggi, margin keuntungan usaha menjadi semakin kecil. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kestabilan pendapatan usaha dan kemampuan dalam mengelola modal kerja.
“Tantangan terbesar biasanya saat harga karet turun atau ketika musim hujan karena kualitas karet ikut menurun,” ujar Marwan.
Selain risiko harga, faktor cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Pada musim hujan, kualitas karet sering mengalami penurunan akibat tingginya kadar air sehingga memengaruhi harga jual ke perusahaan pengolahan.
Di sisi lain, ketergantungan pada sistem pembiayaan berbasis kepercayaan juga memiliki risiko apabila terjadi keterlambatan pengembalian dana atau perubahan kondisi ekonomi yang memengaruhi hubungan kerja sama antara pemilik usaha dan pemberi modal. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Lapak Marwan tetap menunjukkan bahwa usaha agribisnis berbasis kepercayaan dapat berkembang secara berkelanjutan. Keberadaan usaha ini tidak hanya mendukung pemasaran karet rakyat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat Desa Kemuja dan sekitarnya
