Fadhil Arrahman Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bangka Belitung
Penulis: Fadhil Arrahman Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, Universitas Bangka Belitung
Bangka – Dalam era globalisasi, hubungan antarnegara seharusnya menjadi semakin erat dan saling bergantung, terutama dalam sektor ekonomi dan energi. Namun, kondisi tersebut dengan adanya konflik yang membuat dunia menjadi tidak stabil. Hal tersebut menakibatkan adanya ketegangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah yang kembali memanas akibat aksi saling serang dibeberapa negara seperti Iran, Amerika Serikat, dan Israel, konflik ini berpotensi meluas ke negara-negara lain yang ada disekitarnya. Keadaan ini menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting untuk perdagangan energi global.
Selat Hormuz mengalami ketegangan yang menjadi perhatian di seluruh dunia karena wilayah tersebut menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak global. Jika wilayah tersebut mengalami gangguan maka akan berpotensi dalam pasokan energi dunia, termasuk Indonesia yang selama ini masih bergantung pada impor minyak. Meskipun secara geografis Indonesia berada jauh dari pusat konflik tetapi mereka juga merasakan dampak dari kenaikan harga minyak, inflasi, dan tekanan terhadap perekonomian nasional. Oleh karena itu hal tersebut menunjukan bahwa di era globalisasi saat ini konflik itu menjadi salah satu ancaman tersembunyi bagi negara lain, termasuk Indonesia yang diakibatkan oleh satu wilayah.
Salah satu dampak yang dirasakan akibat konflik dari Timur Tengah adalah kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan itu bukan pada minyak saja, tetapi juga menyebabkan kenaikan inflasi di dalam negeri seperti biaya transportasi, produksi, dan distribusi barang. Hal tersebut juga memengaruhi daya beli masyarakat dan pertumbuhan dari ekonomi nasional. Selain dari bagian energi, konflik Timur Tengah juga dapat mengganggu perdagangan global dan ketidakstabilan dari wilayah tersebut juga akan menghambat lintasan pelayaran global yang dipakai untuk pengiriman barang. Jika hal tersebut terutama pada jalur perdagangan utama mengalami gangguan, maka terjadi peningkatan dalam biaya pengiriman dan mengalami keterlambatan pada distribusi barang baik ekspor ataupun impor.
Kenaikan harga BBM non subsidi menjadi salah satu contoh dampak nyata yang terjadi terhadap kehidupan masyarakat. Diperlihatkan dari kebijakan PT Pertamina (Persero) yang menaikkan harga BBM nonsubsidi pada 18 April 2026. Sebagian jenis BBM mengalami kenaikan sangat serius, seperti Pertamax Turbo yang awalnya Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter, dan juga Dexlite dan Pertamina Dex yang juga mengalami kenaikan harga cukup tinggi (Bangkapos, 2026). Bisa dilihat juga selain contoh BBM terdapat juga contoh lain seperti harga plastik yang mengalami kenaikan akibat terganggungnya pasokan bahan baku yang terjadi konflik di wilayah Timur Tengah, di karnakan Indonesia masih bergantung pada impor bahan plastik di berbagai negara. Menurut informasi dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mencatatkan impor plastik serta produk berbahan plastik (HS 39) sebesar US$ 873,2 juta pada Februari 2026, yang setara dengan Rp 14,78 triliun (dengan kurs Rp 16. 927). Angka ini mencerminkan besarnya permintaan dalam negeri terhadap bahan baku plastik dari luar negeri.
Sejalan dengan kondisi tersebut, ketergantungan Indonesia terhadap pasar global masih menimbulkan berbagai tantangan, seperti terganggunya rantai pasok dan perdagangan internasional. Di sisi lain, kesiapan dalam menghadapi krisis akibat konflik luar negeri masih perlu diperkuat, mengingat dampaknya tidak hanya pada sektor energi, tetapi juga mempengaruhi inflasi, nilai tukar, dan daya beli masyarakat. Oleh karena itu, Indonesia perlu meningkatkan ketahanan ekonomi dan energi agar lebih siap menghadapi ketidakpastian global. Untuk itu, Indonesia juga perlu memperkuat ketahanan ekonomi dan energi nasional melalui penguatan sektor industri, energi, serta perekonomian dalam negeri yang tidak bisa lagi ditunda. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Kolombia menegaskan bahwa pemerintah perlu segera mempercepat strategi yang berorientasi pada ketahanan nasional agar Indonesia tidak terus bergantung pada dinamika pasar energi global.
Dalam menghadapi krisis energi akibat konflik global, Indonesia perlu memberikan Solusi untuk memperkuat kemandirian nasional dengan mengoptimalkan sektor domestik, terutama di bidang energi dan industri, sehingga ketergantungan terhadap pasar global dapat dikurangi. Selain itu, percepatan diversifikasi energi dan pengembangan energi alternatif perlu menjadi prioritas untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Pemerintah juga perlu melakukan pengendalian konsumsi BBM serta memperkuat ketahanan energi sebagai fondasi utama keberlanjutan ekonomi nasional. Hal ini sejalan dengan pendapat Muhamad Marup yang menekankan pentingnya penguatan sektor domestik. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan Priyo yang menyebutkan bahwa “Diplomasi saja tidak cukup ketika harga minyak melonjak tinggi. Pemerintah harus bersiap menghadapi tekanan besar terhadap APBN, terutama pada subsidi energi yang akan meningkat.”
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ketegangan di Selat Hormuz bukan hanya menjadi isu regional, melainkan memiliki dampak global yang nyata, termasuk bagi Indonesia. Meskipun tidak terlihat secara langsung, dampak yang ditimbulkan seperti kenaikan harga BBM, inflasi, serta gangguan terhadap stabilitas ekonomi menunjukkan bahwa konflik tersebut merupakan ancaman tersembunyi yang serius. Hal ini menegaskan bahwa dalam era globalisasi, Indonesia tidak dapat terlepas dari pengaruh dinamika internasional. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih kuat dalam meningkatkan ketahanan energi dan ekonomi nasional agar Indonesia lebih siap menghadapi berbagai risiko global yang tidak terduga.
