Ilustrasi Tentang Rantai Pasok Donat
Oleh: Rofi Muzakki, Dkk (Kelompok Dua Mata Kuliah Manajemen Rantai Pasok Agribisnis), Program Studi Agribisnis, Universitas Bangka Belitung
Bangka – Sektor makanan ringan di Indonesia terus tumbuh seiring dengan peningkatan daya beli masyarakat dan pergeseran pola konsumsi. Donat, sebagai salah satu produk camilan yang cukup digemari, memiliki permintaan yang relatif stabil. Namun, karena sifatnya yang mudah rusak (perishable), pengelolaan rantai pasok menjadi faktor penentu kelangsungan dan profitabilitas usaha.
Proses rantai pasok pada usaha donat mencakup berbagai tahapan yang saling berkaitan, mulai dari pengadaan bahan baku (tepung terigu, gula, telur, mentega), proses produksi di dapur, pengemasan, hingga pengiriman kepada konsumen akhir. Setiap tahapan tersebut memerlukan koordinasi yang baik agar produk dapat tersedia tepat waktu dalam kondisi segar dan dengan biaya yang terkendali. Tantangan umum yang dihadapi pelaku usaha donat skala kecil meliputi ketidakselarasan antara rencana produksi dengan ketersediaan bahan baku, fluktuasi permintaan yang sulit diprediksi, dan lemahnya koordinasi antar pihak dalam rantai pasok. Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai inefisiensi seperti kelebihan produksi yang terbuang, kehabisan stok, maupun pembengkakan biaya operasional.
Konsep Supply Chain Management (SCM) menawarkan solusi sistematis untuk mengatasi permasalahan tersebut. Melalui perencanaan terstruktur yang mencakup peramalan permintaan, Material Requirements Planning (MRP), pengelolaan hubungan pemasok, dan pengendalian persediaan, usaha donat skala kecil pun dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mempertahankan kualitas produknya.
Zawira Donuts direncanakan sebagai usaha kuliner yang menyasar segmen pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum di sekitar Universitas Bangka Belitung. Produk yang ditawarkan mencakup berbagai varian topping seperti cokelat, keju, tiramisu, dan gula halus. Penjualan dilakukan secara langsung maupun melalui media sosial seperti WhatsApp dan Instagram.
Sebelum satu pun donat digoreng, tim ZAWIRA DONUTS lebih dulu turun ke lapangan. Mereka mewawancarai calon pembeli dari kalangan pelajar dan mahasiswa untuk mengetahui apa yang benar-benar diinginkan pasar. Dari situ, gambaran konsumen menjadi jelas: mayoritas besar menyukai isian cokelat dan keju, hampir semua menginginkan kemasan yang bersih dan ringkas, serta kisaran harga yang dianggap masuk akal adalah antara dua ribu hingga empat ribu rupiah per biji. Temuan itu tidak sekadar dicatat, tetapi langsung dijadikan fondasi perencanaan produksi. Kapasitas awal ditetapkan 50 buah per hari, disesuaikan dengan proyeksi permintaan, bukan sekadar kemampuan produksi. Pagi hari dan sore hari dipilih sebagai waktu distribusi utama karena itulah saat pembeli paling aktif mencari camilan.
Salah satu kekuatan utama ZAWIRA DONUTS terletak pada kejujuran mereka dalam menghitung angka. Setiap bahan baku dikalkulasi dengan teliti. Untuk menghasilkan 50 buah donat, total pengeluaran bahan mencapai sekitar Rp 44.900, atau kurang lebih Rp 898 untuk setiap buahnya. Di luar bahan baku, ada pula pengeluaran rutin bulanan yang meliputi penggunaan dapur, tabung gas, listrik, dan bahan kemasan, totalnya sekitar Rp 950.000 per bulan. Jika kedua komponen biaya itu digabung, maka setiap donat membutuhkan modal sekitar Rp 1.690 untuk diproduksi. Donat di jual dengan harga Rp 2.000, keuntungan bersih yang diraih memang tidak besar per satuannya namun dalam skala harian, usaha ini sudah mulai menghasilkan laba nyata begitu penjualan melewati 36 donat. Margin keuntungan hariannya tercatat sekitar 15,5 persen, sebuah angka yang cukup sehat untuk usaha pemula di sektor kuliner.
Cara ZAWIRA DONUTS memilih pemasok bahan baku juga mencerminkan cara berpikir yang lebih dewasa dari usaha seusianya. Alih-alih langsung membeli dari tempat terdekat atau termurah, tim terlebih dahulu membandingkan beberapa pilihan berdasarkan tiga hal: mutu produk, kepastian waktu pasokan, dan harga dengan urutan prioritas persis seperti itu.
Hasilnya, tepung dan ragi dipasok dari toko bahan kue langganan di pasar yang stoknya selalu tersedia dan mereknya sudah teruji. Topping premium seperti cokelat dan keju diambil dari pemasok berbeda yang sanggup mengantarkan tepat waktu. Sementara bahan yang paling sensitif soal kesegaran telur dan mentega dibeli langsung dari pasar tradisional setiap pagi sebelum produksi dimulai. Koordinasi antara pengelola produksi dan pengelola pemasaran berjalan lewat grup pesan singkat dengan jadwal yang sudah disepakati: cek stok di awal pagi, pemesanan bahan sebelum jam delapan, produksi berlangsung dari siang hari, pengiriman ke konsumen di sore hari, dan evaluasi dilakukan tiap malam sebelum tidur.
Ketika tiba saatnya memikirkan cara mengantarkan donat ke tangan pembeli, tim tidak langsung mengambil keputusan. Mereka membandingkan empat pilihan moda pengiriman secara serius: kendaraan roda dua, mobil, jalur laut, dan jalur udara. Tentu saja dua pilihan terakhir langsung gugur karena donat hanya bertahan satu hingga dua hari dan distribusinya masih terbatas dalam satu kota.
Antara motor dan mobil, pilihan jatuh ke sepeda motor. Alasannya sederhana namun logis: lebih lincah melewati berbagai jalan, biaya bahan bakar hariannya jauh lebih ringan, dan cukup untuk memuat seluruh kapasitas produksi yang masih di angka 50-an buah per hari. Tiga lokasi pengiriman utama yang dijangkau adalah area kampus UBB, kawasan Alun-Alun Pangkalpinang, dan Taman Kota. Dengan menerapkan metode perhitungan rute yang biasa digunakan perusahaan logistik profesional, tim berhasil menyusun urutan pengiriman yang menghemat jarak tempuh hingga 16 kilometer dibanding jika pengiriman dilakukan tanpa perencanaan sama sekali.
Rute yang digunakan adalah: titik produksi ke kampus UBB lalu dilanjutkan ke Alun-Alun kemudian ke Taman Kota, lalu kembali ke titik produksi, dengan total perjalanan sekitar 27 kilometer per hari.
ZAWIRA DONUTS juga tidak menutup mata soal dampak lingkungan dari usahanya. Donat dikemas dalam kotak dari bahan kertas yang bisa terurai secara alami. Untuk keperluan pengiriman, box yang digunakan berasal dari kardus daur ulang, dan tas yang dibawa pengantar terbuat dari kanvas yang bisa dipakai berkali-kali. Bagi pelanggan tetap, tersedia opsi wadah plastik yang bisa dikembalikan saat pengiriman berikutnya, sebuah cara sederhana namun efektif untuk mengurangi sampah kemasan hingga hampir separuhnya. Di sisi administrasi, seluruh pencatatan dilakukan secara digital. Tidak ada struk kertas yang dicetak setiap hari. Nota dikirim lewat pesan digital, dan data stok tersimpan di spreadsheet yang bisa diakses kapan saja oleh seluruh anggota tim.
ZAWIRA DONUTS adalah pengingat bahwa keberhasilan usaha kecil tidak harus menunggu modal besar atau teknologi canggih. Yang dibutuhkan lebih dulu adalah keberanian untuk merencanakan secara serius, kemampuan membaca angka dengan jujur, dan disiplin dalam menjalankan sistem yang sudah dirancang meski sesederhana grup WhatsApp dan spreadsheet gratis. Rofi Muzakki, Joki Novendra, Edi Susadi, Andini, dan Siti Aisah, lima mahasiswa di balik usaha ini, tengah menyusun langkah untuk meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap. Dengan pondasi perencanaan yang sudah dibangun sejak awal, pertumbuhan itu bukan lagi sekadar harapan melainkan perhitungan.
