Wafatnya Sosok Pegiat Literasi Asal Kemuje H. Suplan Azhari
Duka mendalam menyelimuti keluarga, sahabat, pegiat literasi, dan masyarakat Bangka atas wafatnya sosok penulis dan penggerak literasi, H. Suplan Azhari, pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Almarhum dikenal sebagai putra daerah asal Desa Kemuja, Kabupaten Bangka, yang sepanjang hidupnya tidak hanya mengabdikan diri dalam dunia pekerjaan dan pengabdian sosial, tetapi juga meninggalkan jejak berharga melalui karya tulis dan gerakan literasi yang menginspirasi banyak orang. Salah satu karya yang mengangkat perjalanan hidupnya adalah buku Senja yang Tersisa: Memoar dari Bangka ke Tasikmalaya, sebuah memoar yang menceritakan perjuangan hidup, pendidikan, pengabdian, hingga kecintaannya terhadap dunia literasi.
Kepergian H. Suplan Azhari bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga kehilangan bagi dunia pendidikan dan literasi. Di usia senjanya, beliau membuktikan bahwa semangat belajar, menulis, dan berbagi pengetahuan tidak mengenal batas usia. Bahkan ketika banyak orang memilih beristirahat, beliau justru melahirkan karya yang menjadi inspirasi bagi generasi muda maupun kalangan lansia untuk terus berkarya dan menjaga daya pikir melalui aktivitas literasi.
Dalam berbagai ulasan terhadap karyanya, H. Suplan Azhari dikenang sebagai sosok yang gigih, sederhana, dan memiliki daya ingat serta semangat hidup yang luar biasa. Perjalanan hidupnya dari Bangka hingga Tasikmalaya menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Ia menunjukkan bahwa pendidikan, ketekunan, dan kemauan belajar mampu mengubah perjalanan hidup seseorang menjadi lebih bermakna.
Hari ini, sosok itu telah berpulang. Namun gagasan, tulisan, dan nilai-nilai yang ia tanamkan akan tetap hidup. Setiap lembar buku yang ia tulis menjadi warisan pemikiran yang tidak akan ikut terkubur bersama jasadnya. Justru dari karya-karya itulah generasi penerus dapat belajar tentang arti perjuangan, kesederhanaan, pengabdian, dan pentingnya menjaga budaya membaca serta menulis.
Kepergian H. Suplan Azhari hendaknya menjadi pengingat bahwa sebuah kehidupan yang sederhana pun dapat meninggalkan jejak besar bagi masyarakat. Literasi yang beliau perjuangkan adalah cahaya yang akan terus menyala, selama masih ada anak-anak yang membaca, pemuda yang menulis, dan masyarakat yang mau belajar dari pengalaman hidup orang-orang terdahulu.
Selamat jalan Senior H. Suplan Azhari.
Terima kasih atas dedikasi, keteladanan, dan warisan literasi yang telah engkau tinggalkan.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Dan semoga generasi muda Bangka serta Indonesia mampu melanjutkan semangat yang telah engkau tanamkan: semangat membaca, menulis, berpikir, dan berkarya untuk bangsa.
“Manusia boleh berpulang, tetapi ilmu, tulisan, dan kebaikannya akan terus hidup dalam ingatan zaman.”
