Evahelda, Ilham Febrian, Willy Anata, Elvira Alfarini, Winda, Relita Listia Program Studi Ilmu Pertanian, Fakultas Pertanian Perikanan dan Kelautan, Universitas Bangka Belitung
Penulis: Evahelda dkk, Program Studi Ilmu Pertanian, Fakultas Pertanian Perikanan dan Kelautan, Universitas Bangka Belitung
Bangka – Di tengah upaya diversifikasi ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil timah, sektor pertanian perlahan menunjukkan perannya sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru. Salah satu pelaku usaha yang menjadi bagian dari transformasi tersebut adalah Putra Tani Mandiri, usaha pembibitan tanaman yang berlokasi di Merawang, Kabupaten Bangka.
Didirikan pada tahun 2009 oleh Deni, usaha yang bergerak di bidang penjualan bibit tanaman ini menjadi contoh bagaimana pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mampu bertahan, berkembang, serta memanfaatkan akses pembiayaan formal untuk memperkuat fondasi bisnisnya.
Sebagaimana diketahui, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa pada tahun 2023 terdapat sekitar 67 juta unit UMKM yang berkontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan betapa strategisnya peran UMKM dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Dalam sektor pertanian, keberadaan usaha pembibitan seperti Putra Tani Mandiri memiliki posisi yang sangat penting. Bibit berkualitas menjadi faktor utama dalam meningkatkan produktivitas pertanian, sehingga keberlangsungan usaha pembibitan turut menentukan keberhasilan para petani di lapangan.
Berawal dari modal pribadi sebesar Rp120 juta, Putra Tani Mandiri memulai operasionalnya secara sederhana. Selama beberapa tahun pertama, seluruh kebutuhan usaha dibiayai menggunakan modal internal tanpa bantuan pinjaman dari lembaga keuangan. Dengan ketekunan dan konsistensi dalam melayani kebutuhan bibit tanaman masyarakat, usaha ini mampu bertahan dan terus berkembang di tengah berbagai dinamika ekonomi daerah.
Kini, setelah lebih dari satu dekade beroperasi, Putra Tani Mandiri telah berkembang menjadi usaha berskala menengah dengan empat orang tenaga kerja yang membantu aktivitas operasional sehari-hari. Menariknya, meskipun telah berkembang, sistem manajemen usaha masih dijalankan secara langsung oleh pemilik tanpa struktur organisasi formal.
“Semua masih saya kelola sendiri, mulai dari pembelian, penjualan, hingga keuangan,” ujar Deni saat menceritakan perjalanan usahanya.
Keputusan untuk mempertahankan struktur organisasi yang sederhana ternyata memberikan keuntungan tersendiri. Proses pengambilan keputusan dapat dilakukan lebih cepat, biaya operasional tetap efisien, dan pengawasan terhadap aktivitas usaha menjadi lebih mudah dilakukan.
Momentum penting dalam perkembangan usaha terjadi pada tahun 2015. Saat itu kebutuhan modal untuk memperluas usaha semakin meningkat sehingga Deni mulai mempertimbangkan sumber pembiayaan eksternal. Pilihan kemudian jatuh pada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Melalui program tersebut, Putra Tani Mandiri memperoleh pinjaman sebesar Rp100 juta dengan tenor lima tahun dan suku bunga sebesar enam persen per tahun. Dana tersebut digunakan untuk memperkuat modal kerja dan mendukung pengembangan usaha pembibitan yang semakin berkembang.
Menurut Deni, proses pengajuan KUR berlangsung cukup mudah. Setelah melengkapi dokumen administrasi seperti KTP, Kartu Keluarga, surat keterangan usaha, dan rekening tabungan, pihak bank melakukan survei lapangan untuk menilai kelayakan usaha. Dalam waktu sekitar satu hingga tiga minggu, pinjaman berhasil dicairkan.
“Alhamdulillah tidak pernah mengalami penolakan. Yang penting dokumen lengkap dan usaha memang berjalan,” katanya.
Keberhasilan mengakses pembiayaan formal menjadi pencapaian tersendiri bagi Putra Tani Mandiri. Pasalnya, masih banyak pelaku UMKM yang menghadapi kendala administratif sehingga kesulitan memperoleh akses permodalan dari lembaga keuangan formal.
Tidak hanya mampu memperoleh pembiayaan, Putra Tani Mandiri juga menunjukkan disiplin yang tinggi dalam mengelola keuangan usaha. Hingga saat ini, sistem pencatatan keuangan masih dilakukan secara manual melalui pembukuan bulanan yang rutin disusun untuk memantau kondisi usaha.
Salah satu prinsip yang selalu dijaga adalah memisahkan uang usaha dengan uang pribadi. Selain itu, seluruh transaksi dicatat secara teratur dan setiap pengeluaran disesuaikan dengan kebutuhan operasional yang benar-benar diperlukan.
Untuk memastikan kewajiban pinjaman dapat dipenuhi tepat waktu, Deni menerapkan strategi khusus dengan menyisihkan sebagian keuntungan setiap bulan sebagai dana pembayaran cicilan. Langkah tersebut membuat usaha tetap mampu memenuhi kewajiban kredit tanpa mengganggu aktivitas operasional sehari-hari.
Meski demikian, perjalanan usaha tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang dihadapi Putra Tani Mandiri berasal dari fluktuasi penjualan yang dipengaruhi kondisi pasar, musim tanam, serta perubahan permintaan konsumen. Selain itu, kenaikan harga berbagai kebutuhan operasional akibat inflasi juga turut menekan biaya usaha.
“Kalau harga bahan pendukung naik, tentu biaya ikut bertambah. Tapi kami berusaha mengatur pengeluaran agar tetap bisa berjalan dengan baik,” ungkap Deni.
Berbagai tantangan tersebut justru menjadi pembelajaran berharga dalam membangun ketahanan usaha. Dengan pengelolaan keuangan yang disiplin dan perencanaan yang matang, Putra Tani Mandiri hingga kini tidak pernah mengalami gagal bayar selama menjalankan kewajiban kreditnya.
Ke depan, Deni berencana meningkatkan kapasitas usaha agar dapat mengakses pembiayaan dengan plafon yang lebih besar. Menurutnya, dukungan permodalan yang terjangkau serta program pelatihan terkait pengelolaan keuangan, pemasaran, dan pengembangan usaha sangat dibutuhkan oleh pelaku UMKM sektor pertanian.
Ia juga berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik terjun ke sektor agribisnis. Di tengah berbagai tantangan ekonomi, pertanian dinilai masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru di Bangka Belitung.
Kisah Putra Tani Mandiri menjadi bukti bahwa keberhasilan UMKM tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal, tetapi juga oleh kedisiplinan dalam mengelola keuangan, kemampuan memanfaatkan akses pembiayaan, serta komitmen untuk terus berkembang. Di tengah upaya mendorong transformasi ekonomi daerah, usaha-usaha seperti Putra Tani Mandiri menjadi fondasi penting dalam membangun sektor pertanian yang lebih kuat, mandiri, dan berkelanjutan di Bangka Belitung.
