Ilham Febrian, Willy Anata, Elvira Alfarini, Winda, Relita Listia Program Studi Ilmu Pertanian, Fakultas Pertanian Perikanan dan Kelautan, Universitas Bangka Belitung
Penulis: Ilham Febrian, dkk, Universitas Bangka Belitung
Pangkalpinang – Perkembangan sektor agribisnis dan industri makanan di Bangka Belitung terus menunjukkan tren positif seiring meningkatnya jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi daerah, serta perubahan pola konsumsi masyarakat. Saat ini, konsumen tidak hanya mencari makanan yang lezat, tetapi juga produk yang praktis, higienis, memiliki tampilan menarik, dan dapat diperoleh dengan harga yang terjangkau.
Melihat peluang tersebut, sekelompok mahasiswa di Pangkalpinang menghadirkan inovasi kuliner bernama Sus Erzila, sebuah usaha mikro yang memproduksi kue sus dengan beragam varian fla khas Nusantara seperti vanila, cokelat susu, keju, dan durian. Produk ini dipasarkan melalui platform digital seperti Instagram dan WhatsApp Business dengan sistem produksi fresh to order, sehingga kualitas dan kesegaran produk dapat tetap terjaga saat diterima konsumen.
Namun di balik cita rasa yang ditawarkan, terdapat aspek yang tidak kalah penting dalam keberhasilan usaha ini, yakni penerapan manajemen rantai pasok (supply chain management/SCM) yang terencana dan terintegrasi. Mengingat produk kue sus memiliki masa simpan yang relatif pendek, yaitu sekitar dua hari pada suhu ruang dan lima hari dalam penyimpanan dingin, pengelolaan rantai pasok menjadi faktor utama untuk menjaga kualitas produk sekaligus menghindari kerugian akibat produk tidak terjual.
Pemilik usaha menyadari bahwa keberhasilan bisnis kuliner bukan hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi makanan yang enak, tetapi juga oleh bagaimana bahan baku diperoleh, proses produksi dilakukan, hingga produk sampai ke tangan konsumen dalam kondisi terbaik.
Berdasarkan hasil perencanaan usaha, rata-rata permintaan Sus Erzila mencapai sekitar 85 cup per hari dengan kapasitas produksi maksimal 95 cup per hari. Dalam satu bulan operasional, jumlah permintaan diperkirakan mencapai lebih dari 2.000 cup. Untuk menghadapi fluktuasi permintaan tersebut, usaha ini menerapkan strategi produksi yang dikenal sebagai Chase Strategy, yakni menyesuaikan jumlah produksi secara langsung dengan jumlah pesanan yang masuk.
Pendekatan ini dinilai sangat cocok untuk produk yang mudah rusak karena mampu mengurangi risiko kelebihan produksi dan meminimalkan potensi pemborosan. Dengan kata lain, produksi dilakukan sesuai kebutuhan pasar sehingga stok yang tersisa dapat ditekan seminimal mungkin.
Dari sisi finansial, usaha Sus Erzila juga menunjukkan prospek yang menjanjikan. Dengan harga jual Rp15.000 per cup dan biaya produksi sekitar Rp7.000 per cup, usaha ini memperoleh margin keuntungan yang cukup sehat. Analisis menunjukkan bahwa titik impas atau Break Even Point (BEP) usaha ini hanya berada pada angka 22 cup per hari. Sementara penjualan aktual rata-rata mencapai 85 cup per hari, yang berarti usaha memiliki ruang keuntungan yang cukup besar dan tingkat risiko kerugian yang relatif rendah.
Selain mengelola produksi secara efisien, tim pengelola juga menerapkan pendekatan ilmiah dalam menentukan jumlah produksi harian. Melalui penerapan Model Newsvendor, yaitu metode yang umum digunakan untuk produk dengan masa simpan terbatas, diperoleh jumlah produksi optimal sebesar 95 cup per hari. Angka ini dinilai mampu memenuhi kebutuhan pasar dengan tingkat layanan sekitar 72,7 persen, sehingga peluang terjadinya kekurangan stok dapat diminimalkan.
Keunggulan lain dari Sus Erzila terletak pada sistem koordinasi rantai pasok yang sederhana namun efektif. Bahan baku diperoleh dari pemasok lokal dan petani buah di sekitar Pangkalpinang, kemudian diproses langsung setelah pesanan diterima melalui media sosial. Seluruh proses mulai dari pemesanan, produksi, pengemasan hingga pengiriman dilakukan dalam waktu yang relatif singkat untuk menjaga kesegaran produk.
Dalam hal distribusi, usaha ini mengombinasikan dua metode pengiriman. Untuk pesanan individu digunakan layanan ojek online seperti Gojek dan Grab yang memungkinkan produk sampai ke konsumen secara cepat. Sementara untuk pengiriman dalam jumlah lebih besar, diterapkan sistem Milk Run Distribution, yaitu metode distribusi dengan menggabungkan beberapa titik pengiriman dalam satu rute perjalanan.
Melalui analisis rute menggunakan metode Saving Matrix, tim berhasil menemukan pola distribusi yang lebih efisien. Rute pengiriman dari lokasi produksi menuju Alun-Alun Pangkalpinang, kemudian ke kawasan Kampus Universitas Bangka Belitung (UBB), dan kembali ke lokasi produksi mampu menghemat jarak tempuh hingga 18,1 kilometer atau sekitar 47,5 persen dibandingkan jika kedua lokasi dilayani secara terpisah.
Efisiensi tersebut berdampak langsung pada penurunan biaya transportasi sekaligus mempercepat waktu pengiriman produk kepada konsumen. Dengan total biaya distribusi sekitar Rp35.000 per hari produksi, sistem ini dinilai cukup ekonomis untuk ukuran usaha mikro.
Menariknya, Sus Erzila juga mulai menerapkan konsep logistik ramah lingkungan. Penggunaan sistem pre-order membantu mengurangi limbah makanan karena produksi dilakukan sesuai kebutuhan. Selain itu, penggabungan rute distribusi turut mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi karbon. Ke depan, usaha ini bahkan mempertimbangkan penggunaan sepeda motor listrik untuk mendukung distribusi yang lebih hemat energi dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, keberhasilan Sus Erzila menunjukkan bahwa usaha kuliner skala mikro dapat berkembang secara profesional dengan memadukan inovasi produk dan penerapan manajemen bisnis modern. Tidak hanya menghasilkan produk yang diminati pasar, usaha ini juga menjadi contoh bagaimana konsep manajemen rantai pasok yang selama ini identik dengan perusahaan besar dapat diterapkan secara efektif oleh pelaku UMKM.
Dengan dukungan teknologi digital, perencanaan produksi yang tepat, serta sistem distribusi yang efisien, Sus Erzila memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan menjadi salah satu model usaha kuliner berbasis pangan lokal yang berdaya saing di Bangka Belitung. Lebih dari sekadar menjual kue sus, usaha ini membuktikan bahwa kreativitas, inovasi, dan pengelolaan yang baik mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus membuka peluang usaha baru bagi generasi muda daerah.
