Novalino Ariela Fitriansyah, Riha Datul Aisyah, Cindy Alfida Zahra Dawolo, Nabila Candra Aprilia, Achmad Muharyandi Universitas Bangka Belitung
Penulis: Novalino Ariela Fitriansyah, Dkk, Universitas Bangka Belitung
Bangka – Industri makanan ringan di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, didorong oleh perubahan gaya hidup masyarakat yang menginginkan produk pangan praktis, variatif, dan terjangkau. Di tengah persaingan yang semakin ketat, pelaku usaha mikro dituntut tidak hanya berinovasi pada produk, tetapi juga mampu mengelola rantai pasok secara efektif agar usaha dapat berjalan secara efisien dan berkelanjutan. Gabin Fla, sebuah usaha makanan ringan yang dikembangkan oleh mahasiswa Agribisnis Universitas Bangka Belitung, menjadi contoh nyata bagaimana inovasi produk sederhana dapat berjalan beriringan dengan sistem manajemen rantai pasok yang terencana.
Gabin Fla adalah produk makanan ringan berupa biskuit gabin yang
dikombinasikan dengan fla sebagai topping atau isian. Inovasi ini muncul dari
pengamatan sederhana: gabin adalah makanan yang mudah ditemukan di pasaran
dengan harga terjangkau, namun belum memiliki nilai tambah dan daya tarik yang tinggi. Dengan menambahkan fla yang memiliki cita rasa manis dan tampilan menarik, produk ini berpotensi merebut perhatian konsumen, terutama kalangan pelajar dan mahasiswa. Harga jual yang ditetapkan sebesar Rp10.000 per box
menjadikan Gabin Fla sebagai pilihan camilan yang ekonomis namun tetap menghadirkan pengalaman rasa yang unik. Keberhasilan usaha ini tidak terlepas dari perencanaan rantai pasok yang matang.
Berdasarkan riset pasar sederhana, diketahui bahwa rata-rata permintaan harian mencapai 12 box, dengan standar deviasi sebesar 2,4 box. Dari perhitungan Material Requirement Planning (MRP), diperoleh produksi optimal sebesar 13 box per hari, dengan safety stock 4 box dan Reorder Point (ROP) pada angka 16 box untuk menjaga ketersediaan bahan baku. Bahan-bahan yang dibutuhkan, meliputi gabin, susu sachet, telur, tepung gandum, dan topping, diperoleh secara fleksibel dari pasar tradisional maupun toko bahan kue di sekitar lokasi usaha, tanpa ketergantungan pada satu supplier tetap.
Dari sisi kelayakan finansial, usaha Gabin Fla menunjukkan angka yang cukup menjanjikan. Dengan biaya variabel per box sebesar Rp2.833 dan biaya tetap
harian sebesar Rp4.615, total biaya produksi harian mencapai Rp38.611. Dengan
pendapatan harian Rp120.000 dari penjualan 12 box, laba harian yang diperoleh
mencapai Rp81.389, menghasilkan margin laba sebesar 67,9 persen. Break Even
Point (BEP) tercapai pada 0,64 box per hari atau setara 17 box per bulan, angka
yang sangat rendah dan mudah dicapai. Proyeksi tiga bulan ke depan dengan
kenaikan permintaan 10 persen dan 15 persen menunjukkan total biaya normal
sebesar Rp2.872.766, mengindikasikan skalabilitas usaha yang positif.
Salah satu keputusan strategis penting dalam pengelolaan rantai pasok Gabin Fla adalah penerapan Chase Strategy, yaitu strategi produksi yang menyesuaikan jumlah output dengan permintaan aktual. Strategi ini dipilih karena produk Gabin Fla memiliki umur simpan yang pendek dan tidak tahan lama, sehingga produksi hanya dilakukan berdasarkan pesanan yang masuk melalui sistem Pre-Order (PO) via WhatsApp. Sistem ini secara efektif meminimalkan risiko produk kadaluarsa sekaligus memastikan konsumen menerima produk dalam kondisi segar dan berkualitas.
Dalam aspek transportasi dan distribusi, usaha Gabin Fla menggunakan sepeda motor sebagai moda utama pengiriman. Pilihan ini didasarkan pada pertimbangan biaya operasional rendah, fleksibilitas tinggi, dan kesesuaian dengan skala usaha yang bersifat lokal. Dua wilayah distribusi utama yang dilayani adalah Balunijuk (berjarak 3 km dari lokasi produksi) dan Bukit Merapin (berjarak 11,3 km). Dengan kapasitas motor 12 box, sistem distribusi ini mampu melayani total permintaan dari kedua lokasi dalam satu kali pengiriman.
Optimasi rute distribusi dilakukan menggunakan metode Saving Matrix.
Analisis menunjukkan bahwa rute gabungan Produksi → Balunijuk → Bukit
Merapin → Produksi dengan total jarak 26,1 km terbukti lebih efisien dibandingkan
rute terpisah yang membutuhkan total jarak 28,6 km. Penghematan yang diperoleh
sebesar 2,5 km per trip, yang berarti penghematan bahan bakar dan waktu secara
konsisten setiap kali pengiriman dilakukan. Rute ini ditetapkan sebagai rute optimal
dengan urutan pengiriman yang memprioritaskan Balunijuk terlebih dahulu karena
jaraknya yang lebih dekat dari lokasi produksi.
Yang menarik dari model bisnis Gabin Fla adalah struktur pengelolaannya yang sepenuhnya mandiri. Seluruh proses, mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, hingga pengiriman ke konsumen, dijalankan oleh satu orang yang merangkap sebagai penjual sekaligus pengelola. Model ini, meskipun tampak sederhana, justru menciptakan efisiensi koordinasi yang tinggi karena pengambilan keputusan dapat dilakukan secara cepat tanpa birokrasi. Alur rantai pasok yang pendek, yakni Supplier → Produksi → Konsumen, memungkinkan respons yang cepat terhadap perubahan permintaan pasar.
Pengalaman Gabin Fla memberikan beberapa pelajaran berharga bagi pelaku UMKM di sektor agribisnis. Pertama, inovasi produk tidak harus rumit mengombinasikan bahan sederhana yang sudah ada di pasaran dapat menghasilkan produk dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi. Kedua, sistem rantai pasok yang terencana, meskipun dalam skala kecil, mampu menjamin efisiensi operasional dan menjaga kualitas produk hingga sampai ke tangan konsumen. Ketiga, pemanfaatan metode ilmiah seperti MRP dan Saving Matrix terbukti relevan bahkan untuk usaha berskala mikro sekalipun, menghasilkan keputusan yang lebih terukur dan dapat dipertanggung jawabkan.
Ke depan, Gabin Fla memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh. Rekomendasi strategis yang dapat ditempuh antara lain: menjalin kerja sama dengan supplier tetap untuk memastikan stabilitas harga dan ketersediaan bahan baku, menambah variasi rasa seperti coklat, keju, atau green tea untuk memperluas segmen konsumen, serta melakukan pencatatan keuangan dan operasional secara rutin sebagai dasar pengambilan keputusan yang lebih baik. Jika permintaan terus meningkat melampaui kapasitas 12 box per hari, penambahan tenaga kerja dan evaluasi moda transportasi perlu menjadi pertimbangan serius.
Pada akhirnya, Gabin Fla membuktikan bahwa usaha kuliner berbasis produk agribisnis lokal, sekecil apapun skalanya, dapat dijalankan secara profesional dan efisien jika didukung oleh perencanaan rantai pasok yang baik. Bukan hanya tentang membuat makanan yang lezat, tetapi tentang bagaimana memastikan bahan baku tersedia tepat waktu, produksi berjalan sesuai permintaan, dan produk sampai ke tangan konsumen dalam kondisi terbaik. Di sinilah sesungguhnya esensi manajemen rantai pasok dalam agribisnis: menghubungkan setiap mata rantai, dari ladang hingga meja makan, secara efektif dan efisien.
