Rumah Adat dari Desa Ranggung Usia 130 Tahun
Di tengah derasnya arus modernisasi, sebuah warisan leluhur di Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, justru berdiri tegak menantang zaman. Rumah tua yang kini dikenal sebagai Rumah Adat Pelideh, bukan sekadar bangunan kayu biasa, ia adalah simbol kekuatan budaya, identitas, dan kebanggaan masyarakat Bangka Belitung.
Rumah ini dibangun dengan penuh kesabaran dan ketelitian selama kurang lebih tiga tahun oleh para leluhur terdahulu. Namun yang mencengangkan, hasil dari kerja keras tersebut mampu bertahan hingga lebih dari 130 tahun lamanya.
Warisan Leluhur yang Tak Lekang oleh Waktu; Rumah ini awalnya didirikan oleh seorang tokoh masyarakat terpandang bernama Hasyim bin Hapsa, dengan proses pembangunan yang dipimpin oleh Shao Fong. Pada masanya, rumah ini dikenal sebagai salah satu hunian paling megah di wilayah tersebut.
Kini, rumah tersebut tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan budaya masyarakat Melayu Bangka Selatan. Dari generasi ke generasi, rumah ini terus dirawat dan diwariskan sebagai simbol kehormatan keluarga sekaligus identitas daerah.
Lebih dari Sekadar Bangunan: Ini Simbol Jati Diri. Yang membuat Rumah Pelideh begitu istimewa bukan hanya usianya, tetapi nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Dibangun dengan teknik tradisional khas Melayu, rumah ini mencerminkan kearifan lokal dalam menghadapi alam sekaligus menjaga keseimbangan hidup.
Secara umum, rumah adat di Bangka Belitung memang dikenal menggunakan struktur panggung berbahan kayu yang kuat, sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi lingkungan dan iklim. Namun Rumah Pelideh melampaui itu, ia membuktikan bahwa teknologi tradisional tidak kalah hebat dibanding konstruksi modern.
Melihat nilai sejarah dan keunikan arsitekturnya, rumah tua di Desa Ranggung ini bahkan telah direkomendasikan sebagai rumah adat resmi Kabupaten Bangka Selatan. Penetapan ini bukan hanya soal pengakuan, tetapi juga langkah penting untuk melestarikan budaya lokal agar tetap hidup di tengah generasi muda.
Di saat banyak bangunan modern mudah rusak dalam hitungan puluhan tahun, Rumah Pelideh justru berdiri kokoh lebih dari satu abad. Ini menjadi pengingat kuat bahwa warisan budaya bukan sesuatu yang usang, melainkan fondasi identitas yang harus dijaga.
Rumah ini seakan berkata: “Kami bukan sekadar masa lalu, kami adalah kekuatan masa depan.” Kisah Rumah Adat Pelideh adalah cerita tentang ketahanan, kebijaksanaan, dan cinta terhadap budaya. Sudah saatnya masyarakat Bangka Belitung, khususnya generasi muda, menjadikan warisan ini sebagai sumber kebanggaan.
Karena sejatinya, daerah yang besar bukan hanya dilihat dari pembangunan modernnya, tetapi dari bagaimana ia menjaga sejarahnya.
