Vita Irawan, Shafa Afifah, Meila Rahma Wati, Garits Sekar Tanjung, Evahelda, Nachel Khasati Kusuma Mahasiswa Agribisnis Semester Empat Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan Universitas Bangka Belitung
Bangka – Forum Masyarakat Petani (FORMAP) yang berlokasi di Air Anyir, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, terus mengembangkan usaha produksi pupuk majemuk organik (PUFA) sebagai upaya mendukung pertanian berkelanjutan sekaligus membantu petani memperoleh pupuk dengan harga terjangkau. Kegiatan ini menjadi salah satu contoh penerapan pembiayaan agribisnis berbasis swadaya yang berhasil berkembang melalui kemitraan dengan berbagai lembaga.
Usaha yang didirikan oleh M. Syarif Hidayatullah pada tahun 2016 tersebut awalnya menjalankan produksi menggunakan mesin manual. Seiring perkembangannya, FORMAP melakukan berbagai inovasi melalui penelitian bahan baku lokal Bangka dan menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Bangka Belitung (UBB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Selain itu, FORMAP juga menjadi UMKM binaan Bank Indonesia (BI) dan PLN. Dukungan yang diterima tidak hanya berupa bantuan modal usaha, tetapi juga pendampingan dan program subsidi pupuk untuk petani. Saat ini, produk pupuk organik FORMAP telah dipasarkan ke berbagai daerah, termasuk Bangka Belitung, Medan, dan Jakarta. Dalam kegiatan perasionalnya, FORMAP mempekerjakan sekitar 15 tenaga kerja dengan kapasitas produksi mencapai 24 ton pupuk per hari. Produk utama yang dihasilkan adalah pupuk majemuk organik berbahan dasar fosil, limbah laut, dan enzim yang dapat digunakan pada berbagai jenis tanaman. Harga jual pupuk dipertahankan sebesar Rp70.000 sebagai bentuk komitmen organisasi dalam membantu petani memperoleh pupuk dengan biaya yang lebih terjangkau.
Menurut hasil wawancara yang dilakukan dalam kegiatan kunjungan lapangan mahasiswa Agribisnis Universitas Bangka Belitung, sumber pembiayaan FORMAP berasal dari modal swadaya organisasi dan pemilik usaha. Organisasi memilih tidak menggunakan pinjaman bank guna mengurangi risiko utang dan menjaga stabilitas keuangan usaha. Jika kebutuhan modal masih di bawah Rp1 miliar, pendanaan dilakukan secara kolektif oleh pengelola dan organisasi. Dana yang diperoleh digunakan untuk mendukung proses produksi, pengadaan bahan baku, pengemasan, dan kebutuhan operasional lainnya.
Pengelolaan keuangan dilakukan melalui pencatatan transaksi harian yang kemudian direkap menjadi laporan bulanan sederhana untuk memantau kondisi keuangan usaha. Meski demikian, FORMAP masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama meningkatnya biaya bahan baku pengemasan. Namun, organisasi tetap berupaya mempertahankan harga jual pupuk agar tidak memberatkan petani. Selain menjalankan kegiatan bisnis, FORMAP juga aktif dalam kegiatan sosial dengan menyalurkan bantuan berupa pupuk, bibit, beras, dan kebutuhan lainnya kepada masyarakat sekitar. Keberhasilan FORMAP menunjukkan bahwa usaha agribisnis berbasis swadaya dapat berkembang secara berkelanjutan melalui pengelolaan keuangan yang baik, pemanfaatan kemitraan strategis, dan komitmen terhadap pemberdayaan petani. Model usaha ini menjadi contoh nyata bagaimana sektor agribisnis dapat berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung pertanian ramah lingkungan di Bangka Belitung.
