Pakar IPB Mengubah Limbah Tambak Udang Menjadi Pupuk Organik
Bangka Tengah — Selama ini, limbah molting atau cangkang hasil pergantian kulit udang di ratusan tambak Bangka Tengah hanya berakhir di satu tempat yaitu di perairan sekitar. Mencemari, merusak, dan tidak menghasilkan apa-apa. Namun tim peneliti dari IPB University menawarkan inovasi baru yang dapat mengubah limbah itu menjadi pupuk organik bernilai ekonomi tinggi, sekaligus menyelamatkan lingkungan dari tekanan ekologi yang sudah lama terjadi.
Tim peniliti yang diketuai oleh Prof. Tridoyo Kusumastanto ahli kebijakan ekonomi kelautan pada hari Kamis, 14 Mei 2026 melakukan kunjungan langsung ke PT Shrimpi, salah satu pelaku usaha tambak udang di Kabupaten Bangka Tengah. Kunjungan ini bukan sekadar survei lapangan biasa melainkan langkah konkret pertama untuk menjadikan PT Shrimpi sebagai pilot project dari sebuah penelitian yang memproses limbah berbahaya bagi lingkungan menjadi potensi ekonomi bagi Masyarakat.
Kunjungan ke Tambak PT Shrimpi (14/05/2026)
Dr. Kastana Sapanli Ketua Program Studi Ekonomi Kelautan Tropika IPB menyatakan bahwa inti dari penelitian ini adalah penerapan sistem IMTA (Integrated Multi-Trophic Aquaculture) yang merupakan sebuah pendekatan budidaya terintegrasi dimana limbah dari satu organisme menjadi sumberdaya bagi organisme lainnya atau sederhananya ialah memanfaatkan limbah menjadi produk yang lebih bermanfaat. Dalam konteks tambak udang, limbah molting yang selama ini terbuang akan dikumpulkan, diolah, dan diproses menjadi pupuk organik yang siap dipasarkan.
Sistem ini tak bekerja sendiri. Teknologi Internet of Things (IoT) dan Convolutional Neural Network (CNN) diintegrasikan untuk memantau kondisi tambak secara real-time dan mengoptimalkan seluruh proses produksi berbasis data dari kualitas air hingga laju produksi limbah yang bisa diolah. Prof. Tridoyo menegaskan bahwa potensi yang ada di hadapan mereka sangatlah nyata. “Ini memiliki potensi yang sangat besar jika penerapan dan praktiknya dikerjakan dengan baik. Dari segi bisnis, ini akan mendatangkan new cash flow bagi para petambak. Dan dari sisi lingkungan, kita menerapkan sistem blue economy yang tidak ada limbah yang tersisa dari proses produksi,” ujarnya.
Konsep blue economy yang diusung bukan sekadar jargon. Ia mencerminkan filosofi bahwa sumberdaya kelautan dan perikanan bisa dimanfaatkan secara optimal tanpa meninggalkan jejak kerusakan. Dalam hal ini udang dipanen, cangkangnya diolah, dan hasilnya kembali menyuburkan bumi.
Tawaran IPB University disambut hangat oleh pihak PT Shrimpi. Perusahaan ini dengan antusias menerima peran sebagai prototipe pertama dari penelitian ini sebuah posisi yang bukan hanya memberi kebanggaan, tetapi juga akses langsung terhadap teknologi dan pendampingan dari para ahli dibidangnya.
Hal ini dipertegas oleh Dr. Dwi Putro Tedjo ahli pembuatan pupuk organik, yang melihat kecocokan antara kandungan pupuk hasil olahan limbah udang dengan kebutuhan nutrisi tanaman sawit.
“Pupuk organik ini sangat berpotensi memiliki nilai ekonomi yang besar. Jika dilihat dari unsur yang dimiliki oleh pupuk yang dihasilkan dan kebutuhan kebun sawit yang membutuhkan kalium, ini adalah pasangan yang saling melengkapi dan akan menunjang pertumbuhan pohon sawit,” jelas Dr. Dwi Putro Tedjo.
Keyakinan tim peneliti semakin kuat ketika berkaca pada rekam jejak yang sudah ada. Amggota lainnya yang memiliki kepakaran pengolahan hasil perikanan Prof. Wini Trilaksani mengingatkan bahwa potensi perikanan di Bangka Tengah bukan sesuatu yang perlu diragukan lagi. “Potensi perikanan di Bangka Tengah sangat besar. Contoh nyata saja, kita sudah berhasil membuat biskuit dari ikan yang sudah dapat menembus pasar dan menyuplai SPPG dan sudah memenuhi kebutuhan beberapa kali. Potensi pupuk ini tidak kalah besarnya jika melihat dari banyaknya kebun sawit yang ada di Bangka Tengah. Kami akan serius dan bersungguh-sungguh menjalankan kegiatan ini bersama para stakeholder,” tegasnya.
Pernyataan ini bukan sekadar penyemangat ini adalah bukti bahwa kolaborasi antara peneliti IPB dan ekosistem lokal Bangka Tengah sudah pernah melahirkan produk nyata. Dan kali ini, taruhannya lebih besar. Di balik optimisme yang mengalir deras, tim peneliti juga tidak menutup mata terhadap tantangan teknis yang perlu disiapkan sejak awal. Anggota tim riset yang bertangungjawab dalam merancang teknik budidaya, Dr. Apriana Vinasyiam menekankan bahwa implementasi sistem IMTA membutuhkan persiapan lokasi yang matang. “Pemasangan IMTA harus membutuhkan tempat yang dimodifikasi dan perlu penyesuaian lokasi. Selain itu, kita membutuhkan data time series dari konsentrasi salinitas air di tambak untuk dijadikan sebagai data baseline guna perbaikan ke depannya,” papar Dr. Apriana.
Data salinitas yang akurat dan berkala bukan hal sepele, ia menjadi fondasi bagi sistem IoT-CNN untuk bekerja dengan presisi tinggi. Tanpa baseline yang solid, seluruh sistem otomasi bisa kehilangan akurasinya. Oleh karena itu, untuk efesiensi dalam kontrol kualitas air, ahli rekayasa komputer Bu Faldiena mengingatkan satu prasyarat krusial yang kerap terlupakan dalam pembahasan teknologi tambak: “Untuk mengintegrasikan IoT, kita perlu memastikan ketersediaan internet dan jaringan telekomunikasi yang sudah memadai untuk menunjang proses berjalannya IoT di area tambak nantinya,” ujarnya.
Audiensi Bersama Para Stakeholder (14/05/2026)
Di sinilah realitas lapangan bertemu dengan idealisme teknologi dan tim peneliti tampaknya sudah memetakan keduanya dengan cermat.
Rencana besar ini tidak hanya mendapat respons positif dari dunia usaha. Tim IPB University juga menggelar audiensi dengan para pemangku kepentingan pemerintah daerah, yang melibatkan Dinas Perikanan, Bappeda, dan Dinas Pertanian Kabupaten Bangka Tengah.
Hasilnya bulat yakni seluruh pihak sepakat untuk membuka peluang kerja sama dan bahu-membahu mewujudkan rencana ini. Dukungan dari tiga instansi sekaligus memberikan sinyal kuat bahwa proyek ini akan mendapat kemudahan akses data, regulasi, dan sumber daya daerah yang dibutuhkan.
