Wisuda Santri IKPAH
Pangkalpinang — Pendidikan di Bangka Belitung tepatnya pada TKQ/TPQ Binaan Yayasan IKPAH Indonesia Angkatan XXVI terasa mendapat perhatian dan dukungan, sebab dalam Wisuda hari ini dihadiri langsung oleh ketua TP PKK Babel (Ibunda Noni Hidayat Arsani). Beliau mengajak mari kita bersama mengharkan sekolah yang mengajarkan rumus dan adab. “Mari kita hidupkan masjid, musholah dan rumah sebagai madrasah pertama. Jadikan Al-Qur’an bukan hanya hafalan tapi sebagai pedoman”_ Ujarnya pada postingan Instagram.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 pada 2 Mei juga kembali menjadi momentum besar yang mengguncang jagat media sosial sekaligus ruang-ruang pendidikan di seluruh Indonesia. Tahun ini, semangat pendidikan terasa lebih hidup, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di platform digital yang dipenuhi pesan inspiratif, video edukatif, hingga gerakan kolaboratif lintas generasi.
Mengusung tema resmi “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, Hardiknas 2026 menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen bangsa, mulai dari guru, siswa, orang tua, hingga masyarakat luas.
Di berbagai daerah, sekolah-sekolah menggelar upacara bendera, diskusi pendidikan, hingga kegiatan kreatif yang melibatkan siswa secara aktif. Pemerintah juga mendorong kegiatan yang tidak sekadar seremonial, tetapi benar-benar berdampak pada pengembangan potensi peserta didik. Namun yang menarik, Hardiknas tahun ini terasa berbeda. Media sosial menjadi “ruang kelas baru” yang penuh semangat belajar. Banyak konten kreatif bermunculan, mulai dari kisah perjuangan guru, kritik terhadap sistem pendidikan, hingga harapan generasi muda untuk masa depan yang lebih cerah.Momentum ini sekaligus menjadi refleksi: apakah pendidikan kita sudah benar-benar merata? Apakah kualitasnya sudah menyentuh seluruh anak bangsa? Para pemerhati pendidikan menilai Hardiknas bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi panggilan untuk memastikan pendidikan benar-benar adil dan berpihak pada peserta didik.
Lebih dari itu, Hardiknas juga mengingatkan kembali sosok Ki Hajar Dewantara, pelopor pendidikan Indonesia, yang mengajarkan bahwa pendidikan harus memerdekakan dan membentuk karakter. Semangat “Tut Wuri Handayani” kini relevan di tengah era digital yang penuh tantangan.
Di tengah derasnya arus teknologi dan perubahan zaman, pendidikan bukan lagi sekadar transfer ilmu, tetapi juga pembentukan pola pikir kritis, kreatif, dan berkarakter. Hardiknas 2026 menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh bagaimana kita mendidik generasi hari ini.Hari Pendidikan Nasional bukan hanya milik guru dan siswa, ini adalah milik kita semua. Karena setiap langkah kecil dalam belajar hari ini adalah pondasi besar untuk Indonesia Emas 2045.
Mari jadikan pendidikan sebagai gerakan bersama, bukan sekadar program. Karena bangsa yang besar bukan hanya yang kaya sumber daya, tetapi yang kuat dalam ilmu, karakter, dan kesadaran untuk terus belajar.
