Rozi, S.Sos., M.A.,
(Dosen Agama di Prodi Manajemen FEB UBB)
Pangkalpinang – Di tanah Bangka Belitung yang kita cintai ini, dakwah sejatinya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hidup di masjid, di majelis taklim, bahkan di obrolan santai masyarakat. Namun, saya mulai merasakan satu hal: tantangan dakwah hari ini tidak lagi sama seperti dulu. Ia tidak lagi hanya soal menyampaikan, tetapi tentang bagaimana tetap relevan di tengah derasnya arus modernitas.
Kita hidup di era ketika hampir semua orang terhubung dengan internet. Data tahun 2024 menunjukkan bahwa sekitar 221 juta orang Indonesia atau 79,5% populasi sudah menggunakan internet, dan mayoritasnya adalah generasi muda. Bahkan, kelompok Gen Z sendiri menjadi pengguna terbesar, mencapai lebih dari 34%. Ini artinya, ruang dakwah hari ini telah bergeser, dari mimbar ke layar, dari masjid ke media sosial.
Namun di sinilah persoalannya. Meski akses digital semakin luas, kualitas pemahaman tidak selalu ikut meningkat. Banyak masyarakat menghabiskan waktu berjam-jam di internet (sekitar 7 jam lebih per hari) tetapi masih rentan terhadap hoaks dan informasi yang menyesatkan. Dalam konteks ini, dakwah menghadapi tantangan serius: bukan hanya menyampaikan kebenaran, tetapi juga meluruskan kesalahpahaman.
Saya melihat, dakwah di negeri timah ini harus mulai berani berubah. Tidak cukup hanya ceramah satu arah. Kita perlu pendekatan yang lebih dialogis, lebih dekat dengan realitas anak muda. Mereka bukan tidak ingin belajar agama, akan tetapi mereka hanya membutuhkan cara yang lebih relevan untuk memahaminya.
Modernitas sebenarnya bukan musuh. Ia hanyalah alat. Masalahnya bukan pada teknologi, tetapi pada bagaimana kita menggunakannya. Jika dakwah mampu hadir di ruang digital dengan cara yang bijak, kreatif, dan menyentuh, maka justru di sanalah peluang besar terbuka.
Menjaga spirit Islam hari ini bukan berarti menolak perubahan, tetapi memastikan bahwa nilai-nilai dasarnya tetap hidup, seperti kejujuran, empati, dan kebijaksanaan. Dakwah harus menjadi cahaya di tengah kebisingan informasi. Saya percaya, dari negeri kecil seperti Bangka Belitung ini, dakwah yang hangat, membumi, dan relevan masih bisa tumbuh. Asal kita mau berubah, tanpa kehilangan arah.
