Oleh: Achmad Fathullah
Founder Dedikasi Kita Foundation
Pada 2026, ekspor timah Bangka Belitung kembali melesat. Sepanjang Januari hingga Agustus, nilainya mencapai US$1,33 miliar atau 84,39 persen dari seluruh ekspor provinsi. Angka itu naik 130,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Timah jelas masih menjadi penggerak penting perdagangan daerah. Namun, ketika satu komoditas mendominasi ekspor sebesar itu, pertanyaan tentang ketahanan ekonomi tidak bisa dijawab hanya dengan melihat apakah ekspor sedang naik.
Apakah kenaikan ekspor juga menciptakan pekerjaan baru? Apakah lebih banyak nilai tambah tinggal di daerah? Dan jika harga atau produksi timah berubah, apakah kegiatan ekonomi lain dapat menopang pendapatan masyarakat?
Data pertumbuhan ekonomi memberi konteks bagi pertanyaan tersebut. Pada triwulan I 2026, ekonomi Bangka Belitung tumbuh 4,53 persen dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Pada triwulan II, pertumbuhannya tercatat 4,01 persen. Ekonomi daerah tetap tumbuh, tetapi lajunya lebih rendah daripada triwulan sebelumnya. Pada periode yang sama, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen. Perbandingan ini bukan bukti bahwa kenaikan ekspor timah gagal mendorong ekonomi daerah. PDRB dipengaruhi banyak hal. Namun, angka tersebut menunjukkan bahwa kuatnya ekspor dan laju pertumbuhan ekonomi tidak selalu bergerak seiring.
Sejarah Zambia memberi gambaran mengapa pertanyaan ini penting. Selama bertahun-tahun, tembaga menjadi sumber utama ekspor dan penerimaan negara. Ketika harga tembaga jatuh pada 1970-an, dampaknya terasa jauh melampaui sektor pertambangan. Ekspor, pendapatan negara, dan kegiatan ekonomi yang bergantung pada arus pendapatan itu ikut tertekan. Upaya diversifikasi kemudian dilakukan, tetapi tidak serta-merta menghapus ketergantungan pada tembaga.
Pengalaman itu bukan ramalan bagi Bangka Belitung. Sejarah dan kondisi kedua wilayah berbeda. Namun, ada pelajaran yang relevan. Ketika satu komoditas menjadi penopang besar ekspor, daerah perlu membangun sumber pendapatan lain sebelum guncangan datang. Diversifikasi juga tidak tercapai hanya dengan mencantumkan sektor baru dalam dokumen kebijakan. Ukurannya adalah apakah kegiatan itu tumbuh, menciptakan pekerjaan, menambah nilai produk, dan bertahan dari waktu ke waktu.
Ekonomi digital menjadi salah satu peluang yang patut diperhatikan. Nilai transaksi bruto ekonomi digital Indonesia mencapai US$99 miliar pada 2025, naik 14 persen dari tahun sebelumnya. Bagi Bangka Belitung, peluangnya tidak harus berupa perusahaan teknologi besar. Pemasaran digital dapat membantu usaha lokal menjangkau pembeli, sementara layanan daring dapat mendukung pariwisata, logistik, dan penjualan produk olahan. Namun, pertumbuhan pasar nasional belum membuktikan bahwa usaha lokal sudah memperoleh manfaat. Dampaknya perlu dilihat dari perubahan penjualan, jangkauan pelanggan, produktivitas, dan pekerjaan yang tercipta di daerah.
Energi terbarukan juga berkembang dalam agenda nasional. Kapasitas pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan mencapai 15.630 MW pada akhir 2025, setelah bertambah 1,3 GW sepanjang tahun tersebut. Capaian nasional ini menunjukkan adanya penambahan kapasitas dan investasi, tetapi belum menjawab apakah ada proyek yang layak bagi Bangka Belitung. Potensi setempat perlu diuji dengan melihat sumber daya yang tersedia, kesiapan jaringan, biaya, kepastian pembelian listrik, dampak lingkungan, serta peluang kerja dan usaha bagi masyarakat lokal.
Peluang lain berangkat dari sumber daya yang sudah dimiliki daerah, yaitu hasil laut dan pangan. Pada 2025, nilai PDRB atas dasar harga berlaku untuk lapangan usaha perikanan di Bangka Belitung tercatat Rp8,74 triliun. Industri makanan dan minuman tercatat Rp11,81 triliun. Angka tersebut menunjukkan besarnya kegiatan ekonomi pada harga berlaku, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan laju pertumbuhan riil ataupun besarnya nilai tambah yang dinikmati pelaku lokal.
Pengolahan hasil laut dan rantai dingin dapat memperkuat hubungan antara hasil tangkapan, mutu produk, dan akses pasar. Pemerintah provinsi telah memasukkan peningkatan produksi pengolahan hasil perikanan dalam strategi Dinas Kelautan dan Perikanan 2025 sampai 2029. Data pemerintah daerah juga mencatat 29 unit cold storage dengan kapasitas 2.177 ton pada 2025. Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa sektor ini sama sekali diabaikan. Pertanyaan berikutnya adalah apakah fasilitas tersebut beroperasi dan mudah diakses pelaku usaha, seberapa besar kapasitasnya digunakan, dan apakah pengolahan serta pemasaran benar-benar meningkatkan pendapatan nelayan dan usaha lokal.
Pariwisata juga telah bergerak, baik di tingkat nasional maupun di Bangka Belitung. Pada September 2025, tercatat 94,36 juta perjalanan wisatawan nusantara, naik 13,19 persen dibandingkan September 2024. Di Bangka Belitung, pemerintah daerah melaporkan pelatihan masyarakat di desa wisata, promosi destinasi, dan penyusunan rencana induk pariwisata provinsi untuk 2026 sampai 2045. Ini menunjukkan adanya program dan kegiatan yang sudah berjalan. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan pariwisata menjadi pendapatan lebih besar bagi usaha lokal, memperpanjang masa tinggal wisatawan, dan tetap menjaga lingkungan destinasi. Jumlah kunjungan saja belum cukup untuk mengukur kualitas dampaknya.
Keempat bidang ini dapat saling mendukung. Pemasaran digital dapat membuka pasar bagi produk olahan laut. Rantai dingin dapat menjaga mutu hasil tangkapan. Pasokan energi yang andal dapat menunjang kegiatan pengolahan. Hotel dan restoran dapat menjadi pembeli produk lokal sekaligus bagian dari rantai nilai pariwisata. Hubungan semacam ini memberi peluang agar manfaat ekonomi menjangkau lebih banyak kegiatan dan kelompok usaha.
Untuk mengetahui apakah peluang tersebut benar-benar menghasilkan diversifikasi, pemerintah perlu melaporkan perkembangan ekonomi secara berkala. Publik perlu dapat melihat apakah kontribusi pertambangan dalam PDRB dan ekspor berubah, apakah lebih banyak produk olahan dijual, dan apakah usaha di luar timah menciptakan pekerjaan formal dengan pendapatan yang layak. Untuk fasilitas dan program, ukuran pentingnya bukan hanya anggaran atau jumlah kegiatan. Yang perlu diketahui adalah berapa fasilitas yang beroperasi, seberapa sering digunakan, berapa usaha yang bertahan setelah menerima dukungan, dan apakah pendapatan nelayan, petani, serta pelaku UMKM meningkat.
Hasil tersebut sebaiknya dibandingkan dengan kondisi awal dan target yang telah diumumkan. Dengan begitu, publik dapat menilai apakah kebijakan menghasilkan perubahan nyata atau baru sebatas kegiatan. Data juga perlu menunjukkan apakah pertumbuhan sektor baru membuat ekonomi lebih tahan ketika harga atau volume ekspor timah berubah.
Ekspor timah yang menguat adalah kabar penting bagi Bangka Belitung. Namun, kekuatan ekonomi daerah akan lebih teruji jika pertumbuhan tidak bertumpu terlalu berat pada satu komoditas dan manfaatnya terasa dalam lebih banyak pekerjaan serta usaha. Beberapa sektor telah tumbuh dan sebagian agenda diversifikasi sudah masuk kebijakan. Pertanyaan yang masih terbuka bukan apakah pemerintah pernah menyebut sektor-sektor itu, melainkan apakah kebijakan tersebut telah mengubah struktur ekonomi secara terukur dan cukup kuat untuk bertahan ketika kinerja timah berubah.
